14 Mei 2009

Catatan Kecil tentang Alit


Alit (dalam bahasa Jawa artinya kecil), begitulah biasanya kami, teman-temannya sewaktu masih duduk di SMP Negeri 1 Yogyakarta, acap memanggil. Nama lengkapnya I Gusti Ngurah Alit. Ia memang keturunan Bali. Ayah Alit bekerja menjadi guru di kota Yogyakarta. Sedangkan ibunya, seingatku, hanya menjadi ibu rumah tangga biasa. Maka, karena harus hidup mengikuti ayah dan ibunya, jadilah Alit kecil bersekolah di salah satu SMP terfavorit di kota Yogyakarta ini. Di sekolah inilah aku bertemu dengan Alit dan kemudian menjadi sahabatnya, untuk waktu yang lama.

Mungkin karena kedekatanku dengan Alit bila tiap kali kenanganku terbang ke masa remaja di SMP 1 Yogya dulu, hampir pasti aku takkan pernah melewatkan kenangan akan persahabatanku yang unik tapi tulus dengan Alit. Kebetulan kami sama-sama bergabung (lebih tepatnya membentuk) regu Pramuka bernama cukup antik: Scorpions, dengan lambang kalajengking. Baik tulisan maupun lambang regu kami mirip simbol grup musik Scorpions dari Jerman. Waktu itu kebetulan grup band ini tengah mengharubirukan belantika musik Indonesia. Ibaratnya nyaris tiap malam radio anak-anak muda memutar lagu-lagunya --yang rata-rata masuk aliran slow-rock yang melankolis itu.Lagu-lagu grup band Scorpions seperti menjadi lagu kebangsaan bagi regu pramuka kami. Sementara aku sendiri hampir hapal luar kepala sebagian besar lagu-lagu kelompok musik ini.

Di regu Pramuka kami ini, Alit satu-satunya anggota regu yang beragama Hindu. Di luar Alit, sekitar 6 atau 7 orang, kami semua memeluk agama Islam. Walaupun begitu, ketika itu kami semua menyayangi Alit. Perbedaan agama tidak menjadi kendala kami dalam menjalin persahabatan dan persaudaraan. Malahan, ketika kami salat berjamaah, si Alit atas kemauannya sendiri kadang-kadang ikut nimbrung salat dengan memakai kain sarung pula. Tetapi karena tidak tahu bacaan doa salat yang tengah diikutinya, tak jarang keikutsertaannya malah kami nilai mengganggu. Sebab sebentar-sebentar ia rajin bertanya: ini bacaannya apa nih? Tentu saja, kami yang beragama Islam menahan tawa. Kenapa? Karena jika kami menjawab pertanyaan Alit, tentu saja salat kami menjadi tidak khusyuk bahkan dianggap batal. Tetapi kami tidak pernah memarahinya karena keingintahuannya itu.

Di antara semua anggota regu Scorpions, boleh dibilang akulah kala itu yang paling dekat persahabatannya dengan Alit. Di luar urusan Pramuka, biasanya kami acap jajan bareng di kantin sekolah, ngobrol di tepi jalan, atau aku bertandang ke rumahnya di seputar kawasan Jalan Urip Sumoharjo alias Jalan Solo, kota Yogyakarta. Begitu pula buatku, Alitlah yang kuanggap sahabatku paling dekat. Terus terang, aku merasa nyaman berteman dengan Alit waktu itu, antara lain karena aku menyukai karakternya yang santun dan tidak pernah menakaliku. Maklum, karena badanku yang relatif kerempeng dibanding teman-teman SMP-ku, semasa remaja ini aku rentan mengalami tindak pelecehan dan kekerasan oleh teman-teman yang lebih gede badannya. Alit ini, meski badannya lebih besar dariku, namun ia kurasakan hampir selalu mengayomiku dan tak pernah memperlakukanku secara tak wajar.

Sikap bersahabat dari Alit kepadaku ini amat besar artinya buatku. Sebab, waktu itu aku sudah hidup berjauhan dari orangtuaku yang mukim di kampung halamanku di Sragen, Jawa Tengah, sekitar 90 kilometer dari Yogya. Meski aku di Yogya tinggal ikut keluarga mbakku, namun bagaimanapun juga perasaan kurang kasih sayang itu tetap saja kurasakan. Kehangatan sikap dari sahabat-sahabatku seperti Alit inilah yang kiranya mampu menutupi kerinduan akan kasih sayang orangtua sendiri.

Sayangnya, begitu lulus SMP dan kami melanjutkan ke bangku SMA, aku nyaris tidak pernah bertemu lagi dengan Alit. Kesibukan di sekolah masing-masing dan keasyikan dengan teman-teman baru di SMA rupanya membuat kami tidak sempat lagi saling berkomunikasi. Terlebih waktu itu sekolahku di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta memiliki tradisi tersendiri, yang berbeda dengan sekolah-sekolah menengah lainnya. Yakni di SMA-ku ini hari libur mingguannya jatuh pada hari Jumat. Sementara pada hari Minggu, kami tetap berangkat dan belajar sehari penuh di sekolah. Alhasil, hari libur kami pun berbeda dengan SMA-SMA lainnya, dan inilah salah satu faktor yang membuat aku sulit meluangkan waktu untuk bertemu dengan sahabat-sahabat terbaik dari era SMP. Walaupun aku tahu di mana alamat rumah tinggal Alit, entahlah setelah lulus SMP --aku sendiri belakangan juga heran-- seingatku, aku hampir tak pernah bertandang lagi ke rumah sahabat terbaikku ini.

Seingatku, aku terakhir bertemu I Gusti Ngurah Alit saat aku baru saja lulus SMP dan bersiap-siap mencari sekolah lanjutan di tingkat SMA. Pada waktu itu bertepatan dengan malam hari libur Nyepi, yang merupakan hari raya utama umat Hindu Bali. Karena Alit memeluk Hindu, maka pada malam hari Nyepi itu aku bertamu ke rumahnya. Maksudku hendak mengucapkan selamat hari raya Nyepi.

Eh, dasar bodohnya aku kala itu, aku tidak tahu bahwa pada hari raya Nyepi tersebut para pemeluk Hindu Bali tidak boleh keluar rumah atau beraktivitas sehari-hari, apalagi ngobrol dengan tamu di teras, hehe. Untunglah, waktu itu Ibunda Alit bersedia keluar rumah menemuiku. Beliau kemudian menjelaskan dengan bijak kepadaku bahwa pada hari raya Nyepi, umat Hindu tidak boleh keluar rumah, menyalakan api, atau pendeknya beraktivitas sebagaimana lazimnya.

Akan tetapi, beliau juga mengatakan terima kasih sekali bahwa aku sudah bersedia datang dan menyampaikan ucapan selamat Nyepi. Tentu saja Alit sendiri saat itu tidak ikut nongol di pintu. Barangkali dia sedang bersemedi di dalam rumah. Yang jelas, inilah persentuhan terakhirku dengan Alit: mengucapkan selamat Nyepi dan hanya bertemu Ibundanya.

Bertahun-tahun setelah itu, aku tak pernah mendengar kabar Alit. Melanjutkan SMA ke mana, lantas kuliah di mana, aku sama sekali tidak tahu. Komunikasi dengan teman-teman baikku se-SMP dulu nyaris putus. Apalagi teman-teman baruku di SMA Muhi (julukan akrab SMA Muhammadiyah I Yogyakarta) sebagian besar adalah anak-anak perantau dari luar Yogya, bahkan juga luar Jawa, terutama dari kepulauan Sumatera. Maka, makin lengkaplah aku kehilangan jejak sahabatku Alit.

Tetapi, alhamdulillah, setelah belasan tahun terputus komunikasi, tanpa sengaja tahun ini aku bisa terkoneksi silaturahim kembali dengan Alit. Aku bahagia sekali begitu mengetahui sahabatku itu sekarang sudah mapan hidupnya, sudah menikah, dan sudah pula dikaruniai anak yang cantik. Meskipun aku sendiri masih cukup kacau balau hidupku...(haha, tapi tak apa, ini sudah menjadi konsekuensi dari sebuah pilihan. Jalan hidup yang kutempuh, kusadari sejak awal, memang takkan terlalu mudah. Bakal banyak onak, duri, atau minimal berbatu).

Tidak disangka, aku berjumpa kembali dengan Alit, setelah kami sama-sama menjadi aktivis facebooker (www.facebook.com) --yang mampu menautkan kembali jejaring pertemanan lama melalui dunia maya. Dan ternyata hidup Alit pun sebetulnya juga tak jauh-jauh dari hidupku. Alit tinggal di Jakarta Timur, sedangkan aku di Jakarta Selatan. Kami cuma dipisahkan kemacetan dan keruwetan Jakarta. Haha. Tunggu Alit, kapan-kapan kita segera bertemu. Tapi, sik wait a minute, aku tak buru-buru cari isteri sik, ben aku tidak terlalu malu di depan anak-istrimu hehe...[]. Bintaro, 14 Mei 2009, 04.12 WIB. Special gift for I Gusti Ngurah Alit, my best friend.

10 Mei 2009

Kembali ke Senayan, Kembali Menulis...

Kampanye yang amat menyita waktu, tenaga, dan pikiran, telah membuatku nyaris tak punya waktu untuk bisa sejenak berselancar di dunia maya: ngenet. Apalagi sinyal modem indosatm2 yang menopang kinerja modemku pun tak optimal di daerah Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri. Tiga kabupaten ini menjadi daerah pemilihanku (Jawa Tengah IV) sebagai caleg pusat (DPR RI) dalam pemilu 9 April 2009 lalu.

Alhasil, karena jarang sekali ngenet, maka blog milikku ini pun cukup lama terbengkelai, tak terisi oleh tulisan-tulisan baru dan segar. Baru sekarang ini, sekitar seminggu setelah aku kembali ke Jakarta, untuk ngantor lagi sebagai staf ahli anggota DPR, aku baru bisa mulai menulis blog lagi. Semoga cukup lamanya aku raib dari halaman-halaman blog ini tidak terlalu mengecewakan para pembaca atau pengunjung sekalian; para sahabatku yang rajin menengok lembar demi lembar halaman blog ini.

Yah,begitulah, ketika kita terjebak rutinitas pekerjaan yang terlalu menyita waktu, tenaga, dan pikiran seperti kampanye pemilu tadi --nyaris tanpa jeda atau waktu senggang-- kenyataannya memang membuat kita sulit menulis. Jangankan menulis, yang lebih membutuhkan ketenangan pikiran dan kadang juga inspirasi, untuk membaca buku-buku ringan pun sulit sekali kulakukan. Bagaimana tidak, pagi bakda subuh, sekitar jam 5, sudah ada tamu atau pendukung yang menunggu ingin bertemu. Sementara tengah malam pertemuan-pertemuan baru selesai diadakan dan saya sampai rumah atau bisa beranjak tidur pun sering ketika menjelang waktu subuh pula.

Untung saja masa kampanye ini tidak terlalu lama, sebab jika berlangsung setahun lebih misalnya, maaf, bisa jadi para politisi yang otaknya pas-pasan pun bakal semakin bodoh. Ini lantaran mereka tak sempat membaca buku atau belajar lagi pengetahuan baru. Dan akibatnya, kepentingan rakyat yang diwakilinya pun kian terabaikan. Apalagi jika sudah otak pas-pasan, hati nurani juga hampir tidak punya lagi. Dipastikan politisi busuk kian memenuhi gedung wakil rakyat kita yang seharusnya terhormat itu.

Maka, aku bersyukur sekali kini bisa kembali ke Senayan dan memililiki waktu luang untuk menulis lagi. Walaupun aku senang bergaul dengan rakyat kecil di pelosok-pelosok desa di daerah pemilihanku, akan tetapi pertemuan-pertemuan yang formal dan nyaris tanpa henti tiap hari itu memang betul-betul membunuh aktivitasku menulis. Jika pertemuan informal berupa ngobrol-ngobrol sehari-hari dengan rakyat kecil sih tak masalah. Justru aktivitas begini yang selalu membuatku rindu pulang ke kampung halaman dan menjadi hiburan tersendiri bagiku. Namun pertemuan kampanye itu biasanya bersifat formal, dengan aku sebagai caleg menjadi pusat perhatian di tengah banyak orang, yang tentu saja amat melelahkan. Formalitas dan rutinitas sering membuat kita kehilangan kreativitas. Karena itulah para pekerja seni atau penulis yang membutuhkan kreativitas tinggi lazimnya enggan berbusana formal, emoh pula bekerja yang membutuhkan disiplin atau rutinitas tinggi.

Aku sendiri walaupun bekerja di kantor, tetapi pekerjaanku sebagai staf ahli masih menyisakan ruang senggang cukup banyak. Misalnya hari Sabtu dan Minggu serta malam hari yang bisa kumanfaatkan untuk refleksi dan kontemplasi pribadi. Pada saat-saat leissure-time beginilah aku biasanya dapat menuangkan ide-ide kreatif untuk blog-ku. Jarang aku menulis blog di kantor. Selain suasananya terlalu ramai dengan tamu-tamu yang sering hilir mudik --sehingga menggangu konsentrasiku, aku juga mencoba tidak menyalahgunakan jam kantoranku untuk aktivitas di luar urusan kantor. Bagiku menyalahgunakan jam kantor atau fasilitas kantor untuk urusan pribadi atau urusan di luar kantor sudah termasuk perbuatan korupsi, meskipun mungkin korupsi dalam skala kecil atau ringan.

Tetapi, aku selalu mengingat pesan Aak Gym: jika kita ingin mengubah sesuatu, mulailah dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai saat ini juga. Mungkin masih butuh puluhan tahun bagi bangsa kita untuk bisa memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya. Namun, jika belum berhasil menyikat korupsi yang besar-besar dan sistematis, setidaknya aku sudah ikut memberantas korupsi sejak dini, sejak dari diri sendiri. Kebetulan inilah salah satu tema kampanyeku: tidak korupsi sejak dini sampai mati. []

30 November 2008

Mungkin Tuhan Pun Bingung Menolong...

Ketika pertama kali mengetahui saya "terpilih" menempati posisi ke-7 sebagai caleg DPR RI dari PDI Perjuangan, saya sempat menertawakan diri saya sendiri. Ungkapan yang saya pilih, dan saya katakan kepada sesama teman staf ahli di DPR, bisa jadi sangat sarkastis: Mungkin Tuhan pun bingung bagaimana harus menolong diri saya sebagai caleg....

Sebab, dengan nomor urut kedua dari bawah itu (dari total caleg 8 orang), saya merasa
tak cukup memiliki sumber daya yang bisa menjadi alasan bagi Tuhan untuk bisa menolong saya secara logis. Karena pertolongan Tuhan pun harus mengikuti sunatullah (natural law) atau hukum sebab-akibat yang rasional.

"Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu lebih dulu berusaha
mengubah nasibnya," demikian firman Tuhan dalam Al Quran.

Jadi doa saja sangat tidak mencukupi. Harus ada usaha dan atau sumber daya dari diri
saya sendiri yang membuat posisi Tuhan menjadi tampak wajar memberikan pertolongan. Pertolongan Tuhan yang tak kuasa kita nalar --seperti mukjizat-- merupakan hak istimewa para rasul dan nabi. Padahal kualitas saya jelas masih sangat jauh dari kriteria seorang nabi, apalagi rasul.

Di pihak lain, saya nyaris tak punya cukup bekal finansial, yang konon merupakan
senjata utama bagi para caleg di era money politics sekarang ini. Dari garis keturunan pun, saya bukanlah anak pahlawan atau tokoh terkemuka. Meskipun juga figur publik semasa hidupnya, almarhum ayah saya cuma terkenal di seantero kelurahan, kecamatan, atau terjauh: kabupaten.

Sementara nama saya sendiri masih kalah ngetop dibanding para
selebriti. Lalu, apa yang bisa saya jual kepada rakyat calon pemilih? Jika mengajak warga memilih gambar partai saya, memang tak terlalu masalah. Sebab daerah kelahiran saya, Sragen, Jawa Tengah, memang salah satu basis suara PDI Perjuangan. Kantong konstituen nasionalis, sejak dulu kala.

Tapi ketika saya coba meminta tokoh-tokoh masyarakat setempat mendukung nama atau
nomor urut pencalegan saya, demokrasi pun langsung berubah menjadi sangat pragmatis atawa transaksional. Mereka pun berlomba menyodorkan beragam program yang harus saya eksekusi sebelum hari H pemilu berlangsung.

Demokrasi mendadak seperti slogan
salah satu hipermarket: cash and carry. Dan ideologi pun seperti kehilangan arti.

Ada tokoh warga yang minta masjidnya direnovasi, ada yang minta jalan keliling
kampungnya dicor...ada yang meminta kas RT-nya diisi.

Bayangkan, jika satu kampung
saja nilai proyeknya 10 juta rupiah, berapa milyar harus saya keluarkan untuk mengiyakan permintaan semacam itu dari ratusan kampung di tiga kabupaten daerah pemilihan saya (Sragen, Wonogiri, Karanganyar)?

Bagi tokoh masyarakat setempat itu, seolah-olah seorang caleg adalah sinterklas atau
dermawan berkantong tebal, yang siap membagi-bagi duit. Padahal, posisi ekonomi saya sendiri realitanya tak jauh beda dengan wong cilik atau kaum marhaen yang hendak saya wakili itu. Maka dari itulah, saya sempat mutung.

Berbahagialah Obama, McCain, atau Hillary di
Amerika. Sebab tatkala kampanye, mereka justru dalam rangka mengumpulkan dukungan sekaligus dana dari para calon pemilih. Namun sebaliknya, yang saya hadapi di Indonesia hari ini adalah: saya kampanye untuk meraih dukungan dan (harus) membagi- bagikan dana...

Dalam konteks inilah, saya pengin bertanya kepada para pengamat yang lantang berkata
bahwa demokrasi kita lebih maju dari Amerika Serikat (AS) hanya karena presiden dan wakil presiden RI dipilih rakyat secara langsung.

Karena sudah pesimis sebelum bertarung, saya sempat berpikir hendak mengundurkan
diri dari caleg. Bukan lantaran sakit hati kepada partai karena menempatkan saya di nomor buntut, melainkan karena sudah merasa bakal kalah sebelum bertanding.

Maka bahasa saya pun juga amat pesimis ketika saya memberitahu dosen sekaligus yang
saya anggap sahabat dan guru politik saya: Mas Cornelis Lay, Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol UGM, "Saya nomor urut 7 Mas, nomor sepatu...".

Tidak saya sangka, respon Mas Cony --begitu biasanya beliau saya panggil-- sangat
tajam. "Kamu jangan meremehkan kemampuanmu sendiri. Jika kamu meraih 15% suara (aturan partai) atau 30% suara (aturan KPU) dari bilangan pembagi kursi, kamu jadi. Nomor urut tidak ada artinya."

Kata-kata Mas Cony menyengat benak saya berhari-hari. Alhamdulillah, akhirnya saya
pun bisa berpikir positif terhadap diri sendiri. Ya, sangat salah belum apa-apa kita sudah negative-thinking terhadap potensi diri. Tidak ada salahnya saya mencoba peluang yang sudah di depan mata. Apalagi caleg dengan nomor urut yang lebih bawah ketimbang saya pun saya lihat banyak yang sangat bersemangat.

Maka, pelan-pelan saya coba menata hati kembali. Saya inventarisasi kekurangan dan
kelebihan saya sebagai caleg. Saya menemukan, saya juga punya nilai plus dibanding caleg lainnya. Setidaknya, dari sekian caleg separtai, hanya sayalah caleg yang asli Sragen, salah satu kabupaten dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah IV, dapil tempat saya harus berlaga.

Selain itu, saya termasuk caleg yang masih muda. Usia saya masih di bawah 40 tahun.
Saya juga memiliki rekam jejak belasan tahun sebagai aktivis mahasiswa dan berorganisasi. Apalagi saya datang dari keluarga yang secara sosiologis cukup dihormati di kalangan tetangga-tetangga kami di desa. Di rumah saya di pinggiran kota Sragen, saya juga tercatat sebagai takmir masjid dan pembina remaja Islam masjid di desa saya.

Maka, akhirnya, saya sekarang lebih mantap maju sebagai caleg. Meskipun tetap
menyesuaikan dengan kemampuan yang saya miliki dan tidak terlalu ngoyo atau memaksakan diri.

Dan saya kembali meyakini kebenaran janji Allah bahwa jika kita menolong agama
Allah, maka Allah pun akan menolong diri kita. Bahkan pertolongan Allah itu bisa saja datang dari arah yang tak kita duga-duga.

Tidak ada yang mustahil bagi Allah, kecuali mustahil berbuat buruk atau bersikap tidak
adil. Sebab Allah itu sendiri Maha Baik dan Maha Adil. Seperti pesan yang pernah tertempel di kaca rias kamar kos saya di Yogya: God is good. []

16 November 2008

Seorang Ibu yang Shalat di Pematang Sawah



Siang itu (Sabtu, 15 Nov 2008), saya tengah mencoba sepeda motor yang akan saya pakai mendampingi bos saya, anggota DPR RI Aria Bima, yang melakukan kunker (kunjungan kerja) di Solo, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, dan seputarnya. Ketika itu saya melewati kawasan industri di Desa Purwosuman, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Pada saat inilah saya menjumpai seorang ibu tengah duduk di pematang sawah, di bawah terik matahari sekitar pukul satu siang. Awalnya saya kira ibu itu sedang mencari rumput atau, maaf, buang hajat dengan sembarangan. Tapi ketika motor saya berada di jalan aspal bergelombang, tepat di belakang posisi duduknya, tiba-tiba badan saya merinding. Subhanallah (Maha Suci Allah), ibu itu rupanya sedang sembahyang...
Karena tertarik dengan pemandangan unik yang baru pertama kali saya lihat tadi, sepeda motor pun otomatis saya pelankan larinya. Hati saya makin terharu ketika mengetahui ibu itu melakukan shalat khusyuk dengan cara yang amat bersahaja. Bayangkan, ibu itu shalat di atas pematang sawah, dengan sajadah selembar karung plastik mirip karung bekas wadah pupuk petani. Ia sembahyang tidak mengenakan mukena putih sebagaimana lazimnya muslimah shalat, akan tetapi hanya berkebaya dan bagian bawah tubuh dililit kain batik --seperti busana sehari-hari ibu saya dan para perempuan Jawa lainnya yang sudah sepuh di desa-desa. Kepala ibu itu ditutup secarik kain berwarna biru, yang betul-betul hanya selembar kain, namun memerankan fungsi menjadi semacam kerudung atau jilbab.
Beberapa ekor kambing jawa berbulu cokelat semu hitam asyik merumput di dekat ibu salehah tadi. Seorang ibu marhaen yang salehah, tepatnya. Saya tak sempat berhenti dan bertanya kepada ibu itu. Tapi saya yakin, kambing-kambing ini adalah hewan yang tengah digembalakan ibu tadi. Sebab setahu saya, bukan kebiasaan orang-orang desa di sekitar rumah saya untuk membiarkan kambingnya pergi merumput tanpa didampingi pemilik atau tukang penggembalanya. (Sehari kemudian, tatkala saya melewati jalan yang sama, ternyata saya bertemu ibu itu lagi, yang memang seorang penggembala kambing).
Melihat pemandangan itu, imajinasi saya pun secara refleks membayangkan kehidupan para Nabi utusan Allah. Bukankah Ibrahim, Musa, Isa, atau Muhammad, juga seorang penggembala kambing? Kenapa Allah menyukai mengirim Nabi yang berprofesi sebagai penggembala kambing? Benak saya bertanya sendiri. Mungkin karena Nabi tugas utamanya menggembalakan manusia, maka menjadi penggembala kambing adalah salah satu proses magang para calon Nabi untuk bisa menjadi penggembala manusia yang baik. Ini jawab saya sendiri. Mungkin terkait logika itu pula, dalam khazanah agama Katolik, seorang pastor acap disebut sebagai penggembala, sedangkan jamaahnya menjadi gembalaannya.
Saya kemudian tersenyum sendiri. Sebab saya jadi ingat, suatu ketika --sewaktu saya masih sempat sesekali mengajar murid-murid TPA (Taman Pendidikan Al Quran) di masjid di rumah saya-- saya pernah membesarkan hati beberapa murid TPA yang mengisi waktu luang sepulang sekolah untuk membantu orangtuanya menggembalakan kambing. Ketika itu kebetulan saya kehabisan bahan untuk mengisi materi pelajaran TPA.
Saya katakan kepada anak-anak TPA itu, "Dalam agama Islam itu tidak dikenal pembedaan antara jenis pekerjaan kasar atau pekerjaan halus. Pekerjaan yang bergengsi atau tidak bergengsi. Yang ada adalah pekerjaan halal atau pekerjaan haram. Menggembala kambing adalah sebuah pekerjaan yang halal. Jadi kalian jangan malu menjadi penggembala kambing. Sebab Nabi kita pun seorang penggembala kambing. Saya sendiri ketika masih SD juga menggembalakan kambing seperti kalian."

Merasa Malu Sendiri
Sepulang pertemuan tak sengaja dengan ibu yang shalat di tengah sawah itu, benak saya terus terngiang-ngiang peristiwa yang saya anggap istimewa ini. Mengingat momen itu, saya menjadi merasa malu sendiri. Mungkin perjumpaan saya dengan ibu tadi sudah diatur Allah sedemikian rupa. Yakni, sebagai sarana Allah untuk mendidik saya agar lebih taat dan istiqamah (konsisten) menjalankan shalat lima waktu tepat pada waktunya. Sebab betapa sering ritme kehidupan yang sibuk, juga pekerjaan yang tambah padat, di Jakarta belakangan ini membuat saya acap menjamak shalat secara "semau gue".
Artinya, hanya karena alasan duniawi yang sepele, seperti kedatangan tamu atau tengah menyelesaikan tugas kantor, saya sudah memiliki alasan untuk menggabungkan dua shalat yang berlainan waktu menjadi satu waktu sekaligus. Perjalanan pulang dari kantor di Senayan (Jakarta) ke rumah di Bintaro (Tangerang), yang hanya perlu saya tempuh naik KRL sekitar setengah jam, pun bisa saya pakai sebagai alasan untuk mengkategorikan diri saya sebagai musafir :-). Alasan yang, sadar atau tidak, saya buat semata-mata supaya saya bisa menjamak shalat lagi. (Padahal, ibu penggembala tadi, jika mau, lebih memiliki alasan untuk menjamak shalat zuhurnya dengan shalat ashar ketika pulang ke rumah seusai menggembalakan 4 ekor kambingnya. Tapi toh, pilihan ini tak dilakukannya. Sebab ia lebih memilih shalat tepat pada waktunya, di mana pun ia berada).
Ya Allah, ampunilah hambamu yang sembrono ini...Betapa tidak bermutunya diri ini dibandingkan dengan ibu penggembala tadi; ibu bersahaja yang tidak menjadikan segala keterbatasannya sebagai alasan menunda-nunda shalat kepada-Mu. Ibu yang tidak memanipulasi segala kekurangannya, segala kemiskinannya, untuk menjustifikasi ketidaktaatan kepada-Mu. Seorang ibu yang dengan segala ujian kekurangan dan kemiskinannya masih mampu senantiasa bersujud syukur kepada-Mu. Sementara aku yang secara pendidikan dan materi lebih Engkau manjakan, betapa seringnya bersikap kufur kepada-Mu...[] Sragen, 16 November 2008.

09 November 2008

Menyoal Nama Tim Pembela Muslim


SEBAGAI Muslim, sudah sejak lama sebetulnya saya merasa sangat terganggu dengan nama Tim Pembela Muslim (TPM), yang dipakai para pengacara pelaku pemboman Bali I, Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera. Namun baru kali ini, sehari usai jenazah ketiga terhukum mati itu masuk liang lahat, saya sempat menuliskan kerisauan hati ini.
Terus terang, sebagai Muslim, saya keberatan dengan pemakaian nama TPM tersebut. Sebab nama itu seolah-olah menggambarkan bahwa semua Muslim berdiri di belakang Amrozi dkk. Padahal, justru sebaliknyalah yang terjadi: bahwa mayoritas Muslim (silent majority), termasuk yang mukim di Indonesia, sangat tidak setuju dengan tindakan keji Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera tersebut.
Pemakaian nama TPM itu secara langsung atau tidak, sama saja hendak membebankan akibat ulah sembrono Amrozi dkk ke seluruh pundak kaum Muslimin. Ini merupakan tindakan yang sangat tidak adil dan tidak proporsional. Sebab, bagaimana bisa, tindakan sadis --yang tidak sesuai nilai-nilai kemanusiaan maupun agama universal-- yang dilakukan segelintir Muslim sesat pikir itu akibatnya harus dipikul seluruh umat Islam? Padahal mayoritas umat Islam sendiri tidak menyetujui bahkan banyak yang diam-diam maupun secara terbuka mengecam perilaku sadistis teroris berjubah agama itu.
Karena itu, lebih tepat jika TPM memakai nama Tim Pembela Muslim Pelaku Bom Bali, atau Tim Pembela Muslim Tersangka Teroris, atau Tim Pembela Amrozi, Mukhlas, Imam Samudera, misalnya. Sudah semestinya jika ketiga terhukum mati itu dengan berani melakukan tindakan terornya membunuh orang-orang yang tak bersalah dan tak bersenjata, bahkan banyak di antaranya kaum perempuan, mereka harusnya berani pula menanggung risikonya sendiri. Tidak perlu bersembunyi atau berlindung di balik nama Muslim yang dicatut oleh tim pengacaranya.
Media massa pun harusnya bersikap kritis mengenai hal ini. Sebab liputan media massa yang berulang kali memberitakan nama Tim Pembela Muslim sebagai tim pengacara Amrozi dkk, sedikit atau banyak ikut menyumbang salah pengertian publik terhadap para pelaku terorisme berlabel Islam. Akibatnya muncul mispersepsi, seolah-olah justru Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samuderalah yang --sebagai seorang Muslim-- telah dizalimi hukum Indonesia. Bukan sebaliknya bahwa ketiganyalah yang telah bertindak zalim dan karena itu sangat layak dihukum mati.
Mestinya, media massa jangan mau begitu saja didikte oleh Amrozi dkk ataupun tim kuasa hukumnya, untuk selalu menyebut tim pembela tersangka tindak pidana terorisme tersebut sebagai tim pembela Muslim. Toh hak penulisan berita dan penyuntingan sepenuhnya berada di tangan media dan orang luar nyaris tak bisa mengintervensi. Jika media massa tidak bersikap kritis, maka lembaran-lembaran media massa atau layar-layar media elektronik tak mustahil justru dimanfaatkan untuk propaganda para teroris tersebut, guna memperdaya opini publik.
Memang, sebagai manusia dan warga negara, ketiga terpidana teroris itu berhak didampingi pengacara atau kuasa hukum, untuk mengurus kepentingannya. Namun bukan berarti hak didampingi pengacara tersebut lantas dipolitisasi sedemikian rupa sehingga seolah-olah seluruh Muslim berdiri di pihak Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera; seolah-olah hukuman yang ditimpakan kepada ketiganya adalah hukuman atau kezaliman atas seluruh kaum Muslimin.
Politisasi atas kasus terpidana mati Amrozi, Mukhlas,dan Imam Samudera berikutnya sangat kentara. Misalnya munculnya spanduk-spanduk penyambutan yang menyebutkan bahwa mereka syuhada (Muslim yang mati syahid atau pahlawan Islam yang gugur di medan perang), sambutan massa melimpah yang kelihatannya dimobilisasi secara sistematis, dan seruan agar umat Islam melakukan shalat ghaib bagi ketiganya. Jika dibiarkan, politisasi demikian ini bisa menyesatkan pemahaman publik dan membuat sebagian umat Islam menganggap perbuatan biadab Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera sebagai kebenaran religius. Dan ini sangat berbahaya, bukan saja bagi NKRI dan kerukunan antarumat beragama, melainkan juga bagi upaya dakwah yang benar.
Terus terang, saya sangat menyayangkan tindakan aparat kepolisian, kejaksaan, dan juga media massa yang, sadar atau tidak, begitu mengistimewakan ketiga terpidana mati bom Bali itu. Tidak sedikit wartawan yang terlihat sangat bersahabat dengan ketiganya, bahkan tak sedikit yang minta pose foto bersama. Pada saat liputan menjelang eksekusi pun, media banyak yang menampilkan ketiganya mirip selebriti, sehingga fokus liputan tertuju kepada anak, istri, atau keluarga terpidana. Sedangkan bagaimana akibat ulah ketiga teroris itu kurang tercakup, bagaimana nasib korban pemboman Bali I kurang ditampilkan kembali. Pendeknya, liputan media massa kurang berimbang, kurang cover both-side, dan justru banyak menguntungkan pelaku terorisme.
Sementara polisi dan jaksa terkesan memperlakukan jenazah mereka bak pahlawan. Ini dilengkapi dengan sikap Presiden SBY yang tidak tegas dan tidak tanggap, sehingga cenderung membiarkan masalah Amrozy dkk ini berlarut-larut dan kian menyeleweng dari substansi persoalan yang sebenarnya.
Sebagai presiden, SBY sebetulnya dapat memerintahkan Kapolri dan Jaksa Agung untuk tidak membuat perlakuan khusus bagi Amrozi dkk, baik menjelang, selama, maupun pasca eksekusi mati. Akan tetapi, saya curiga, jangan-jangan perlakuan khusus yang diperlihatkan Polri dan aparat kejaksaan itu justru atas instruksi presiden, secara langsung ataupun tidak langsung. Ini sejalan dengan karakter SBY yang terlihat memang terlalu lembek menghadapi tekanan kelompok-kelompok militan. Karakter yang membuat saya sering gemas. Huhhh...[] Jakarta, 00.49 WIB (10/11/2008).

21 Oktober 2008

Ridwan Dalimunthe, Pedagang Kaki Lima Sahabat Saya


PERTAMA kali saya mengenal Ridwan Dalimunthe tatkala saya akan memulai kuliah di UGM Yogyakarta pada awal 1988. Jadi sekitar 20 tahun lampau.

Waktu itu saya baru saja kabur –betul-betul dalam arti melarikan diri—dari bangku kuliah saya di Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang. Saya berada di Yogya karena tengah bersiap ikut ujian masuk UGM.

Karena tak punya kos dan minim pula duit, saya menumpang di rumah kontrakan teman se-SMA, yakni Wahyudi Marhaen (kini redaktur Harian Jurnal Nasional di Jakarta). Rumah kontrakan itu terletak di Ngadiwinatan, perkampungan bergang sempit di Jl KHA Dahlan, di seberang Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta.

Kala itu Ridwan berstatus sama dengan saya. Yakni menumpang tinggal di rumah kontrakan teman sekelas saya di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta tersebut. Saya katakan menumpang, karena oleh Wahyudi dan adiknya, saya dan Ridwan hanya diminta ikut membayar iuran listrik alias menumpang nyaris gratis di rumah itu.

Terus terang, sejak pertama kali mengenalnya, saya langsung simpati kepada Ridwan. Bahkan saya, Wahyudi, dan Slamet Hariyadi –teman serumah lainnya—memposisikan diri sebagai semacam kakak bagi Ridwan dan adiknya, si Ucok. Kenapa? Karena selain kedua anak muda Batak ini perilakunya kami nilai sangat santun, juga kehidupannya kala itu mengharukan hati saya dan kawan-kawan.

Betapa tidak, Ridwan waktu itu baru mulai duduk di bangku sekolah menengah, yakni Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Yogyakarta. Sementara Ucok masih SMP. Akan tetapi, keduanya sudah harus membiayai hidup dan sekolahnya secara mandiri.


Pengasong Koran

Awalnya Ridwan bertahan hidup dengan berjualan koran di sepanjang jalan Malioboro. Yakni tiap pagi sebelum ke sekolah dan sore hari sepulang sekolah. Sedikit demi sedikit, ia bisa menyisihkan tabungan dari berjualan koran itu. Dengan bekal tabungan yang sedikit inilah Ridwan beralih menjadi pedagang kaki lima kecil-kecilan. Ia membuka lapak untuk berjualan kerajinan dompet kulit dan pernak-pernik murah meriah lainnya. Tempatnya persis di trotoar depan Toko Buku Sari Ilmu, Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Ridwan dan Ucok membagi jadwal berdagang. Ridwan berjaga sore karena paginya ia sekolah, sedangkan Ucok berjaga pagi lantaran dia sekolah siang. Jadi, kendati saya waktu itu juga (calon) mahasiswa yang miskin, tapi saya merasa nasib saya masih lebih baik. Ini karena keluarga saya masih mengirim biaya hidup bulanan untuk saya. Sementara Ridwan dan adiknya sama sekali tidak mendapatkan kiriman dari keluarganya dan harus bertahan hidup sendiri. Ini yang kian membuat saya dan teman-teman jatuh hati kepada Ridwan dan Ucok.

Menurut Ridwan suatu saat, selain keluarganya memang terbatas secara ekonomi, sejak awal niatnya sekolah di Yogyakarta juga kurang disetujui keluarganya. Tapi ia nekad pergi meninggalkan kampung halamannya begitu lulus SMP. Sendirian ia naik bus dari Tapanuli, Sumatera Utara, –dan dengan jalan yang terlunta-lunta— akhirnya sampai juga di kota pelajar Yogyakarta yang diidam-idamkannya. Kisah adiknya lebih baik, karena hanya perlu menyusul sang kakak ke Yogyakarta belakangan.

Kisah Ridwan berdagang kaki lima ini pun tidak mulus begitu saja. Entah berapa kali saya menemuinya berwajah sedih tepekur di kamarnya –yang berdinding pembatas separuh bambu di rumah kontrakan kami— lantaran barang dagangannya hilang dicuri. Syukurlah teman-teman saya yang lebih beruang kemudian bisa meminjaminya modal untuk kembali berusaha. Dan seingat saya, dalam tiga tahun masa sekolahnya di MAN 2 Yogyakarta dilalui Ridwan dengan berdagang kaki lima begini.

Di rumah kontrakan kami, di sela-sela waktu sekolah dan berjualannya, Ridwan rajin menimba ilmu kepada saya dan teman-teman yang lebih dulu menjadi mahasiswa di UGM dan UII. Ini membuat kami antusias memberinya semangat dan mengasah kepekaan intelektualnya. Kebetulan rumah kontrakan kami menjadi salah satu pangkalan diskusi teman-teman saya yang sebagian besar aktivis gerakan mahasiswa, termasuk Budiman Sudjatmiko, yang belakangan dikenal sebagai ketua umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan sempat dipenjara Orde Baru-Soeharto serta kini bersama-sama saya aktif di PDI Perjuangan. Meski masih murid level SMA, tapi Ridwan biasanya ikut nimbrung dalam diskusi-diskusi mahasiswa di rumah kontrakan ini.

Pergaulan dengan para aktivis mahasiswa inilah yang kiranya ikut mendorong Ridwan memutuskan meneruskan kuliah selepas dari bangku MAN. Alhamdulillah, ia bisa diterima kuliah di jurusan Sosiologi UGM. Dan kami pun ikut bangga dengan keberhasilannya ini.


Menyalib Para Senior

Lama tak berjumpa, belakangan saya terkejut sekaligus bangga begitu mengetahui adik kami yang semula terlunta-lunta tersebut bisnisnya makin berkembang. Ridwan akhirnya bisa memiliki toko pakaian batik dan kerajinan yang cukup besar di kawasan Pasar Burung Ngasem, beberapa meter di sebelah barat Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Karena lokasinya strategis, dekat dengan kawasan yang ramai dikunjungi turis lokal maupun mancanegara, toko Ridwan berkembang maju. Maka tak aneh, selepas lulus sarjana dari Fisipol UGM, Ridwan berani memutuskan kuliah lagi di program Magister Manajemen (MM) UGM dengan biaya puluhan juta rupiah.

Karena kuliah di MM UGM ini disyaratkan para pesertanya berdasi ala eksekutif muda, Ridwan sang pengasong koran itu pun kemana-mana jadi tampil necis dengan kemeja formal lengkap dengan dasi. Ia pun tak lagi kesana kemari dengan berjalan kaki atau naik buskota. Ridwan yang sudah mahasiswa MM UGM ini mampu membeli dan menyetiri sendiri sebuah mobil Daihatsu Espas baru.

Sungguh prestasi yang amat mencengangkan dan membanggakan kami, teman-teman sekaligus kakak-kakaknya di perantauan semasa masih sengsara. Perjalanan Ridwan ini bisa dibilang telah menyalib nasib dan prestasi kami sendiri –yang mungkin, sadar atau tidak, telah menjadi guru yang sempat mengkader atau menyemangatinya dulu. Sebab saya dan kawan-kawan justru masih saja miskin, dan hanya sarjana strata satu pula, pada pertengahan 1990-an itu –yakni ketika Ridwan mulai menempuh pendidikan pascasarjana dan secara ekonomi mulai mapan pula. Bahkan Ridwan juga mendahului kami dengan menikah lebih dulu. Istrinya pun seorang gadis dari Jawa Barat yang santun dan salehah pula.

Tapi kami tidak iri, subhanallah, sebaliknya saya dan kawan-kawan justru sangat bangga dengan semua pencapaian Ridwan. Rezeki dan prestasi secara sunatullah (natural law) memang akan berpihak kepada mereka yang memiliki komitmen untuk bekerja keras mengupayakannya. Begitulah yang difirmankan Tuhan dalam Al Quran dan telah dibuktikan sendiri oleh Ahmad Ridwan Dalimunthe, sahabat dan adik saya.

Seingat saya, pertemuan terakhir saya yang cukup intensif dengan Ridwan terjadi pada tahun 1998. Saya dan dia kala itu sama-sama menjadi eksponen gerakan mahasiswa Yogyakarta yang menuntut Soeharto mundur dan Orde Baru dilikuidasi. Saya menjadi ketua presidium Jaringan Islam untuk Pembebasan Rakyat (JIPRA), semacam konsorsium aktivis pelajar dan gerakan mahasiswa yang berasal dari Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pelajar Islam Indonesia (PII), Badan Koordinasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), dan sejumlah ormas pemuda dan mahasiswa Islam lainnya.

JIPRA merupakan salah satu aktor intelektual dan mobilisator aksi massa sejuta orang ke Alun-alun Utara Yogyakarta pada 20 Mei 1998. Aksi massa inilah, selain aksi-aksi sejenis di berbagai kota besar lainnya, yang akhirnya ikut memaksa Presiden Soeharto meletakkan jabatan keesokan harinya.

Sementara itu, Ridwan dan kawan-kawannya dari MM UGM selain ikut demo, juga bertindak sebagai fasilitator pertemuan antarfaksi gerakan mahasiswa di Gedung MM UGM. Pertemuan inilah yang antara lain menyepakati aksi bersama antarberbagai faksi mahasiswa Yogyakarta untuk meminimalisisasi pertentangan dan bersatu serta bergerak serentak pada 20 Mei 1998, guna memaksa Soeharto lengser dari jabatannya.

Begitulah kurang lebih sebagian perjalanan hidup Ridwan Dalimunthe yang saya ketahui. Karena itu, saya tidak terkejut ketika Ridwan memberitahu kepada saya baru-baru ini bahwa ia hendak maju sebagai salah satu caleg DPR RI dari tanah kelahirannya di Sumatera Utara, mewakili Partai Amanat Nasional (PAN), tempatnya berkecimpung selama ini. Saya tidak terkejut, sebab memang sejak muda, ketika masih duduk di bangku MAN 2 Yogyakarta dan tinggal serumah kontrakan bersama saya, Ridwan telah menunjukkan perhatian yang serius terhadap masalah-masalah rakyat dan bangsanya.

Harapan dan doa saya, jika nanti terpilih mewakili rakyat Sumatera Utara di Senayan, semoga Ahmad Ridwan Dalimunthe tetap amanah dan istiqomah (konsisten) mengemban kepercayaan rakyat. Demikian pula semoga terus setia mencintai dan membela wong cilik: yakni rakyat kecil dan bersahaja, yang rata-rata hidup sengsara –seperti halnya saya, Budiman, dan dia sendiri sewaktu menuntut ilmu di Yogyakarta dulu. Merdeka!

27 September 2008

Nikmatnya Ramadhan di Kampung


Subhanallah, melewati bulan Ramadhan di kampung sungguh nikmat. Apalagi setelah sekian lama kita terjerembab di tengah keruwetan, kemacetan, dan kesibukan sebuah metropolitan seperti Jakarta. Maka aku sungguh bersyukur, Ramadhan 2008 ini bisa pulang kampung menjelang 10 hari terakhir bulan suci ini. Jika orang-orang kota memerlukan iktikaf (berdiam diri) di masjid-masjid pada sepekan terakhir menjelang Lebaran, maka kampung bagiku ibarat masjid tempat iktikaf. Di sinilah aku bisa merasakan suasana Ramadhan yang bersahaja namun penuh makna.
Kampung kami, di pinggiran kota Sragen, sekitar 25-an kilometer sebelah timur Solo, punya tradisi Ramadhan yang terhitung unik. Jika biasanya kampung sepi sunyi, pada bulan puasa, kampung tiba-tiba menjadi hidup. Orang-orang kampung yang sebagian besar merantau ke Ibukota atau ke luar Jawa, satu demi satu muncul lagi di kampung kami begitu puasa dimulai. Mereka sengaja mudik, bukan saja karena ingin merayakan Idul Fitri yang masih lama, tapi lebih karena ingin menjalankan ibadah puasa di kampung halaman.
Ada perbedaan kemeriahan Ramadhan di kampung kami dengan Ramadhan di perkotaan. Di kampungku sekitar seminggu atau dua minggu menjelang bulan Ramadhan, anak-anak muda aktivis Remaja Islam Masjid (Risma) dengan inisiatif sendiri mulai membentuk susunan panitia Ramadhan yang terdiri kalangan muda semua. Orang-orang tua cukup kami persilakan rajin beribadah dan siap dilayani saja :). Panitia antara lain terdiri petugas pencari dai atau khotib penceramah tarawih, petugas jlaburan (snack tarawih), dan petugas pengumpul infak dan zakat.
Khotib tarawih perlu dicari sampai ke desa atau kecamatan sekitar karena desa kami yang kecil dan mayoritas warganya Muslim santri “pendatang baru” (maksudnya, banyak yang sebelumnya Islam abangan atau minimalis) belum mampu menyediakan semua dai yang dibutuhkan. Maka panitia Ramadhan masjid kami harus bersaing dengan masjid lainnya untuk lebih dulu mendapatkan daftar penceramah yang bermutu. Alhamdulillah, untuk urusan berburu ustad atau khotib begini masjid kami terhitung terampil, sehingga seminggu sebelum Ramadhan biasanya kami sudah memiliki daftar khotib tarawih untuk 30 hari penuh. Mungkin salah satu faktor pendorongnya ialah: masjid kami bakal kesulitan memperoleh dai penceramah jika saja kami telat atau keduluan oleh masjid-masjid lainnya :).
Meski secara ritual masjid kami merujuk tradisi Muhammadiyah yang simpel, namun sudah sejak awal kami punya sikap beragama yang inklusif atau membuka diri kepada kelompok Islam lainnya. Karena itu, dalam berburu khotib atau penceramah pun kami tak terlalu pilih-pilih latar belakangnya. Ada khotib yang datang dari kalangan Nahdlatul Ulama, dari Muhammadiyah sendiri, dari Tarbiyah, maupun dari Jamaah Tabligh.
Bagaimana masjid kami tidak pluralis dan inklusif? Ketika melaksanakan shalat tarawih (plus witir) kami tidak ngotot untuk selalu mengikuti praktek ibadah ala Muhammadiyah yang dikenal ber-“mazhab” sebelas rakaat. Jika kami tahu khotib sekaligus imam shalatnya dari Nahdliyyin, kami akan memberi kesempatan kepadanya untuk bisa memimpin shalat tarawih (plus witir) sesuai kebiasaan NU, yakni 23 rakaat. Biasanya salah satu panitia Ramadhan akan naik ke mimbar dan menjelaskan kepada jamaah bahwa ada dua model shalat tarawih. Yakni ala Muhammadiyah dan ala NU. Dan karena malam itu khotib sekaligus imamnya saudara kami dari NU, maka demi menghormati tamu, kami pun shalat tarawih sesuai kebiasaan NU –yakni merujuk teladan sahabat sekaligus khalifah kedua pengganti Nabi SAW: Umar bin Khaththab.
Kepada jamaah, kami jelaskan bahwa pengalaman melakukan tarawih sesuai tradisi NU ini penting agar jika suatu ketika kita tengah bepergian dan harus mengikuti shalat serupa di masjid dengan ciri khas NU –di kota-kota di Jawa Timur, misalnya— kita tidak perlu terkaget-kaget dan bisa mengikutinya dengan baik. Sementara kepada jamaah yang enggan bertarawih dengan jumlah rakaat lebih banyak itu juga kami persilakan. Mereka bisa berhenti ketika rakaat telah mencapai jumlah seperti yang biasa kami lakukan, yakni 8 rakaat, dan melanjutkan shalat witir di rumah masing-masing.
Alhamdulillah, pendekatan inklusif dan pluralis tersebut menjadikan masjid kami tempat titik temu (melting pot) atau semacam masjid silaturahim antarkelompok. Kebetulan secara geografis, posisi masjid kami mendukung keperluan ini. Di sebelah utara perkampungan kami mayoritas masjidnya mengikuti tradisi NU dan di sebelah selatan perkampungan kami kebanyakan menjalankan ritual sesuai keyakinan Muhammadiyah. Sementara di masjid kami, jamaah mendapat keleluasaan memilih di antara keduanya sesuai kemantapan hati masing-masing.
Karena itu tak aneh, masjid kami yang mayoritas jamaahnya menjalankan ritual shalat sesuai anjuran Muhammadiyah, juga enjoy saja melakukan tahlilan atau yasinan yang menjadi tradisi khas NU. Remaja masjid kami pun memiliki satu grup rebana dan shalawatan yang lazimnya merupakan unsur seni budaya komunitas Nahdliyyin. Bahkan ustad yang rutin mendampingi pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu sepekan sekali, yakni Bapak Qosim, juga datang dari kalangan NU. Sementara Risma datang dari back ground Jamaah Tarbiyah dan Muhammadiyah.
Suasana bersahabat lintas kelompok Islam yang hadir di masjid kami itu sangat kami syukuri. Itu membuktikan bahwa meski berbeda-beda, asal saja kita mau, sebetulnya untuk hidup rukun itu kita sangat bisa. Ini sekaligus membuktikan kebenaran sabda Nabi bagi kami: bahwa keragaman itu sejatinya adalah rahmat. Asal kita bisa menyikapinya dengan bijak, tentunya.[]